Membangun Karir dalam Rumah Tangga Bag.3

Dulu saya ingat, sebelum menikah dan saat saya masih bekerja saya ingin agar bisa pensiun muda, bisa travelling kemana-mana, gak dikejar urusan kantor dan kantor. Sekarang sudah menikah, udah pensiun dini, bisa jalan-jalan diantar suami kemana aja, tanpa ada tekanan tugas. Artinya keinginan itu setidaknya udah mulai tercapai. Peran baru sebagai istri dan ibu harus saya jalani dengan sepenuh hati. Karena pilihan karirku saat ini jelas adalah rumah tangga, yang mungkin bagi sebagian wanita modern (termasuk saya yang dulu punya pemikiran untuk punya karir di luar rumah) pilihan stay at home adalah pilihan yang tidak menarik sama sekali. Meskipun jujur saya akui, tidak mudah untuk ikhlas mendedikasikan seluruh waktu kita hanya untuk keluarga.

Tapi begitulah semuanya kembali ke konsep diri dan keyakinan yang kita bangun. Toh sekarang pelan-pelan banyak orangtua mulai menyadari kegagalan mereka dalam mendidik diakibatkan mereka kurang memiliki waktu bersama anak-anak mereka. Pekerjaan kantor menjadi prioritas, dengan alasan materi untuk kebutuhan anak, namun ternyata materi bukan factor utama untuk bisa membesarkan dan mendidik anak.

Apalagi sekarang, di era internet yang semakin berkembang pesat, orang bisa menghasilkan uang dari hanya duduk di depan computer. Bisa menjadi bos untuk dirinya sendiri, tanpa harus keluar rumah setiap hari dengan rutinitas yang seringkali begitu menjemukan. Bermain bersama anak, bercanda bersama suami sepertinya lebih membuat rileks hidup kita.

Yah begitulah dinamika dan gejolak yang ada pada diri saya di awal kehamilan. Ketika menghadapi masalah saya seringkali menangis (maklum wanita gitu loh…). Tapi begitu punya anak, rasanya air mata ini semakin jarang keluar. Pribadi kita jadi lebih kuat dan tidak manja lagi pada suami. Gejolak emosi bisa teratasi dengan interaksi bersama anak yang semakin hari semakin lucu.

Tepat 3 April 2007 ketika itu saya melahirkan anak pertama tanpa ada hambatan yang berarti. Meskipun waktu kelahiran sempat mundur dari yang telah diperkirakan sebelumnya. Persalinan saya waktu itu ditolong oleh seorang bidan yang sudah cukup professional dan kebetulan masih kerabat dekat suami. Semalaman saya gak bisa tidur ketika mulai terasa kontraksi, semalaman pula saya bolak balik terus ke kamar mandi, untuk pipis dan BAB. Begitu terus hingga akhirnya subuh, saya langsung diantar ke klinik. Selama menanti proses bukaan, rasanya sakit bukan main. Tapi saat itu saya terus berzikir, berusaha untuk menenangkan diri sendiri, muncul rasa sedih dan keharuan karena teringat lagi sama ibu. Inginnya ada disamping ibu, tapi saat itu saya merasa do’a ibu selalu bersama saya. Karena ibu sempat menelpon dan member dukungan. Gak lama, ketuban pecah, sekitar pukul 08.00 wib lahirlah anak pertamaku yang imut dan lucu, seorang putrid, Izzatul Ulya Afysina namanya. Abinya dengan setia mendampingi proses kelahiran anak pertamanya, dia memberi semangat dan bisa menenangkanku saat itu, meskipun ibu ga ada disampingku. Kalo ibu mertua sepertinya bener-bener gak tega mendampingi.

Belakangan aku tau, setelah mendampingi proses kelahiran anak pertama, suamiku jadi gak selera makan selama seminggu. Karena dia yang mengurus ari-ari dan melihat langsung darah yang melahirkan. Tapi say melihat itulah salah satu bentuk tanggungjawabnya sebagai suami. Aku kembali bersyukur kepada Allah telah memberikan jodoh yang begitu setia dan baik padaku.

Sekarang Izza sudah tumbuh besar dan usianya sudah 2 tahun. Semakin besar semakin banyak eksplorasi yang ingin ia lakukan. Bermain outdoor adalah kesukaannya, tapi sebagai ibu tentu saja aku harus membatasi kapan ia boleh bermain di luar kapan dia harus bermain di dalam rumah. Terkadang mainan yang menumpuk di dalam rumah tetap membuatnya tergoda untuk selalu keluar. Yah namanya juga anak-anak, dunia dengn segala isinya jauh lebih menarik daripada hanya buku dan kartu bergambar yang sering saya tunjukkan padanya sejak usia 6 bulan.

Sekarang saya sedang menanti kelahiran anak kedua. Mudah-mudahn normal, dan tidak ada hambatan yang berarti…mungkin hanya ini yng bisa saya sharing ke anda semua melalui coretan kecil. Dengan harapan coretan kecil ini bisa memberi manfaat dan pencerahan bagi para istri dan para suami yang ada di muka bumi ini.

Rampung pada 16 April 2009, 11.33 Wib
Kediri,Jatim

Posted on April 21, 2009, in My Day Dreaming and tagged , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. rumah tangga ibarat sebuah ujian yang tak kunjung selesai.baru lulus ketika bisa mati berdua he..he…

  2. Ane jadi terharu sis…(ganti sebutan ye), hiks..hiks…hiks…, tapi serius lho emang bener. mengarungi rumah tangga ibarat berlayar ke tengah samudera, indah, asyik tapi cukup menantang. apalagi ane sebagai bapak, dah punya anak dua, sedang kuliah plus ekonomi masih relatif.
    Apalagi ternyata mendidik dan membina anak merupakan tanggung jawab ayah. dalam qur’an dan hadits semua menyebut ayah. tapi sebahagian orang menyerahkan bulat-bulat ke istri. Ayah tak boleh lepas tangan. sebab jiwa ayah dan ibu mesti menyatu dalam pendidikan anak. ni sambil lewat aje. thank kemaren ayam telurnya ya… doain moga nilai bagus.

    • jualankudotcom

      hihiihihih….terharu gimana bro? oiya, data kalkulasi bisnis ternak ayam arabnya ada yg salah tuh. Biaya pakan kita perhitungkan gak sampe rp.200/ayam/hari. Biaya pakan cuma sekitar Rp.157/ayam/ekor. Jadi keuntungannya lumayan..

  3. Selamat Hari Ibu ya… moga generasi Indonesia seperti anak-anak masa Rasulullah dan Sahabat

  4. saya sebagai pengantin baru salut banget….

    banyak yang bisa kita lakukan di rumah=)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: