Anne Ahira ahlinya internet marketer di Indonesia (Suka duka…Bag.1)

Saya dapet kisah ini dari newsletter Ahira. Mudah-mudahan beliau tidak marah kalau saya juga ikut berbagi cerita tentang kisah dan lika liku hidupnya menjadi seorang Internet Marketer yang benar-benar SUKSES. Cerita ini menjadi semangat sendiri buat saya, dan saya ingin berbagi dengan teman-teman yang juga punya keinginan sama. Setidaknya bisa menghasilkan sedikit materi dari dunia internet yang begitu luas ini. Berikut penuturan langsung dari Ahira


Hari ini saya ingin bercerita, sedikit berbagi pengalaman, dan mudah-mudahan teman-teman bisa belajar sesuatu dari ‘sharing’ saya kali ini. Hugs (pelukan). Banyak orang melihat saya ‘saat ini’, dan lalu mengambil kesimpulan… “Enak ya jadi Anne Ahira, pinter internet marketing,banyak duitnya, banyak muridnya, banyak teman-temannya, bagaimana sih dia bisa seperti itu?”

Aah… mereka tidak pernah tahu saja apa yang saya lalui sebelum semua itu terjadi. Setiap orang tentunya akan mendapatkan pengalaman dan hasil yang berbeda-beda, tergantung DNA nya masing-masing. Tongue (meledek) Tapi bagaimana pun, hakekatnya tetap sama.

Mereka yang sukses biasanya adalah mereka yang LULUS ujian saat menghadapi banyak rintangan dan ribuan kegagalan, dan mereka yang tidak pernah mengeluh saat itu terjadi, dan tidak pernah berhenti mencoba!

So, Anda ingin tahu proses bagaimana saya belajar Internet Marketing sampai ada pada tingkat sekarang ini? OK, sekarang waktunya saya untuk bercerita… Big Grin (seringai besar, tertawa)

Ujian Pertama: NARKOBA!

Saat saya belajar Internet Marketing, saya mentah-mentah dituduh pake narkoba oleh keluarga! Bagaimana bisa? Saat saya belajar internet marketing, tidak ada orang yang tau, termasuk orang tua. Waktu itu saya tinggal di tempat kos, di daerah Setia Budhi, Bandung.

Suatu hari orang tua saya menjenguk saya ke tempat kos, mereka heran kenapa sudah lebih dari satu bulan kok saya tidak pulang-pulang dan tidak ada kabar berita? Waktu itu saya sibuk belajar Internet Marketing PLUS mengajar, jadi saat itu ‘jam’bagi saya melaju terasa cepat, dan tidak sadar ternyata sudah lebih dari 1 bulan saya tidak pulang-pulang ke Banjaran meski untuk sekedar setor muka. Big Grin (seringai besar, tertawa)

Siang itu orang tua saya ‘tiba-tiba’ datang, dan mereka melihat mata saya merah. (mata merah sebenarnya karena saya kurang tidur sepanjang malam belajar terus Internet Marketing!). Belum lama bertemu dengan mereka, saya harus sudah pergi lagi karena kebetulan ada janji pergi ke luar untuk mengantar murid saya, jadi saya minta orang tua saya untuk menunggu sebentar di tempat kos.Teman-teman tahu apa yang terjadi saat saya pulang? Kamar saya acak-acakan. Mama dan Papap saya lagi krasak krusuk mencari sesuatu di kamar saya.

Waktu itu saya cuma tanya “Lagi cari apa?” Dan tanpa banyak basa basi Ibu saya langsung bilang… “Jujur kamu, kenapa mata kamu merah? Kamu mabok ya? Ato pake Narkoba?”

Tentu saja saya bilang “tidak”, tapi mereka terus-terusan nasehatin saya tentang bahaya Narkoba, baik untuk kesehatan dan juga dari segi agama. Selama itu saya ditanya berulang-ulang “Yakin kamu tidak pakai Narkoba?”. Karena terus-terusan dinasehatin untuk sesuatu
yang sebenarnya boro-boro pake, kepikiran juga nggak, saking capenya, akhirnya saya jawab “Yaa.. terserah Papa sama Mama deh”.

Nah barangkali jawaban saya itu membuat mereka jadi tambah curiga.. lol Teman-teman tahu, salah satu sifat (ntah buruk ntah bagus hehe) jika ada orang yang berpikir macam-macam tentang saya, saya selalu cuek, tidak pernah melawan, saya lebih memilih diam.

Intinya, saya tidak mau buang-buang energi untuk hal-hal yang negatif. Masih banyak mimpi yang belum tercapai. Jadi biarlah orang
berpikir semaunya, yang penting saya tidak. Big Grin (seringai besar, tertawa) Mengajar Private + Belajar IM Saat saya belajar Internet Marketing, waktu itu saya juga mengajar private, saya mengajar bahasa Inggris untuk orang Indonesia, dan bahasa Indonesia untuk orang asing terutama para ekspatriat.

Saya juga mengajar anak-anak mereka yang sekolah di International School, saya datang ke rumah mereka utk mengajar Matematika,
Science, dan pelajaran2 lainnya. Tidak jarang juga saya jadi ‘baby sitter’ saat orang tua mereka pergi bermain golf ato ada acara di luar.

Saat saya belajar Internet Marketing, saya bekerja sebagai guru private mulai dari jam 8 pagi hingga 10 malam. Jadi hari-hari saya
waktu itu penuh sekali dengan kegiatan. Penghasilan saya bisa mencapai 15 juta per bulan hanya dari mengajar dan tutoring spt
itu.

Orang asing yang ingin belajar dengan saya saat itu sampai ANTRI. Saya cukup dikenal oleh banyak para ekspatriat yang bekerja di
Bandung. Mereka bilang sih katanya saya jagoan ngajarnya.. hehehe. Saya sering nolak-nolak murid saking terlalu banyaknya yang ingin belajar dengan saya waktu itu.

Wah gaya deh pokoknya waktu itu, tidak jarang orang asing (Korea, Jepang, Taiwan, Amerika, Jerman, dll) “rebutan saya” untuk ajarin anak mereka. “Miss Ahira, we will pay you DOUBLE than others,
so please”. Saya biasa suka jawab “Nope! Sorry! It’s not about the money for me, it’s about quality”. Ci yee…

So anyway, Anda hitung sendiri berapa jam saya bekerja setiap hari, LEBIH dari 12 jam! Dan setelah itu malamnya saya belajar internet marketing! Tekad saya bulat, cita-cita saya kuat, mimpi saya besar, itulah perasaan saya waktu itu!

Ini dibuktikan dengan saya merasa tidak keberatan meluangkan waktu untuk belajar Internet Marketing meski harus ke luar tengah malam.
Saya biasa pergi ke Warnet jam 11 malam setelah bekerja dan lalu belajar internet marketing sendirian dan pulang ke tempat kos sekitar jam 2 -3 pagi. Kalau lagi liburan malah saya seringkali pulang jam 5 pagi.

Saat saya belajar Internet Marketing, tidak ada teman yang bisa saya ajak bicara. Tidak ada guru yang bisa saya tanya. Setiap permasalahan yang muncul dan tidak saya pahami, saya dengan rajinnya mencari solusi SENDIRI.

Ada sih beberapa teman online yang saya kenal dari Amerika, tapi mereka juga tidak bisa saya mintai bantuan terus-menerus tokh mereka juga punya bisnisnya masing masing, dan topiknya beda dengan saya. Jadi seringkali saya memecahkan semua permasalahan yang ada sendiri.

Pusing saat belajar, itu sudah pasti! Kadang-kadang saya juga merasakan frustasi saat mentok “Ini harus digimanain? Kemana
saya harus nanyanya? Siapa yang bisa bantu saya? Kok orang lain kelihatannya gampang, tapi saya tidak?”

Saya akui, ada saatnya saat belajar IM saya benar-benar ingin membantingkan komputer yang ada di depan saya, tapi saya nggak berani…soalnya itu punya warnet.. Big Grin (seringai besar, tertawa) Gimana kalau bantingin aja yang ada di tempat kos?! Apalagi itu, saya mikir lebih dari dua kali, soalnya komputernya baru! Tongue (meledek)

So akhirnya saya tetap bertahan, dan tentunya dengan bantuan BODREX! Big Grin (seringai besar, tertawa) Teman-teman saya ‘heran’, saya maunya apa…penghasilan sudah besar, relasi dengan para
ekspatriat sudah luas, saya kenal banyak bos-bos besar di Bandung yang memiliki pabrik dan perusahaan-perusahaan besar lainnya.
Sekarang saya malah lari ke hal yang menurut mereka ‘mustahil’.

Gaji saya memang besar untuk ukuran di Bandung. Tapi gaji besar itu saya dapatkan karena waktu dan energy yang saya sisihkan juga cukup besar! Kalo saya sakit misalnya, saya tidak bisa mendapatkan itu uang. Ato kalau para ekspatriatnya pada pulang?

Saya sangat senang mengajar, dan melihat anak-anak orang lain menjadi pada pintar dan dapat nilai bagus di sekolahnya setelah
belajar dengan saya! Tapi saya juga punya MIMPI, saya ingin keliling dunia! Saya tidak ingin hanya mendenger “katanya”. Saya ingin melihat semuanya sendiri! Dan ini salah satu alasan kenapa saya mendalami ilmu IM. Karena saya lihat, ada peluang besar di sana untuk ‘orang biasa’ seperti saya, yang tidak punya modal miliaran seperti para
ekspatriat dan bos-bos yang saya kenal, tapi satu saat bisa menyaingi mereka dengan modal yang jauh lebih kecil!😉

Bagian Tersulit

Sebenarnya yg “ter” sulit bagi saya saat itu bukan pelajaran internet marketingnya. Yang lebih sulit bagi saya waktu itu adalah ‘ujian mental’ yang saya hadapi dan justru tidak ada hubungannya dengan Internet Marketing sama sekali!

Saya tidak keberatan harus bekerja dari jam 8 – 10 malam untuk mengajar. Lalu dari jam 11 s/d 2 atau 3, kadang jam 4 pagi belajar IM, setelah itu baru pulang ke tempat kos. Tunggu sholat subuh, lalu tidur
beberapa jam, kemudian saya pergi lagi mengajar.

Dengan kondisi ‘sangat cape’ seperti itu saya TETAP MELAKUKAN, karena kuatnya keinginan untuk bisa mengubah hidup dan masa depan saya. Tapi efeknya? Mata jadi merah, karena kurang tidur, muka jadi pucat seperti orang mati, dan LALU… tiba-tiba saya disangka pake
NARKOBA oleh orang tua!

Ujian Kedua: Disangka Pelacur!
Tempat kos di mana saya tinggal punya jam masuk yang telah ditentukan. Orang harus pulang paling lambat jam 10 – 11 malam.
Sebenarnya jam masuk ini tidak begitu ketat. Saya perhatikan kadang ada orang yang baru pulang jam 12 – 1 malam, dan tidak di apa-apain.

Dalam kasus saya, saya malah ‘keluar’ jam 11 malam, pulang tengah pagi. Pemilik kos yang sebenarnya tinggal di Jkt akhirnya tahu, dan saya pun diusir Sad (seringai, cemberut) Yang menyakitkan, saya diusir bukan karena pulang paginya… Saya diusir karena disangka seorang pelacur. Sebelum diusir saya bahkan sempat dimaki-maki
dulu! Katanya saya hanya mengotori tempat kos itu.

Bagaimana bisa saya disangka pelacur? Saya sering pulang tengah malam atau pagi dan diantar oleh cowok yang berbeda-beda
(padahal mereka itu sebenarnya pegawai warnet yang berbaik hati mau mengantar saya ke tempat kos karena sudah terlalu larut
malam).

Saat diusir, saya tidak melihat adanya kesempatan untuk menerangkan, dan kelihatannya percuma. So, tanpa banyak bicara saya pun besoknya ke luar dari tempat kos itu! Setiap orang mahasiwa dan karyawan) yang ada di tempat kos itu memandang ‘rendah’ kepada saya, dan saya biarkan mereka memandang begitu adanya.
Saya hanya diam.

Saya akui, saya memang jarang bergaul karena kesibukan saya. Dan saya tidak ada waktu untuk menerangkan ‘teman, sebenarnya saya ingin jadi internet marketer, bukan pelacur’. But who cares?? So, biarinlah mereka berpikir seperti itu, yang penting Tuhan tahu…

Saat diusir saya tidak pulang ke rumah orang tua, karena takut nanti mereka akan menjejali saya dengan banyak pertanyaan, apalagi saya
sudah dituduh pake narkoba! Sekarang saya disangka pelacur pula.. wah bisa berabe deh… So, saya cari-cari tempat kos…

Bete sekali saya waktu itu, dunia benar-benar sedang tidak bersahabat dengan saya! Sudah difitnah, diusir, dimaki-maki pula. Dan yang lebih bete lagi, kok hari itu tumben-tumbennya tempat kos pada penuh! Padahal biasanya banyak yang kosong di daerah itu.

Tapi alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan satu (itu juga dapat maksa!). Saya dapat tempat kos asli di pinggir selokan! di daerah Sukajadi Bandung. Saya pikir tidak apalah, yang penting dekat ke tempat mengajar dan ke tempat warnet di mana saya belajar IM di sana.

bersambung …

Posted on May 13, 2009, in Sucess Story and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: